Harga Minyak Rebound, Setelah Anjlok Tajam Sehari Sebelumnya

Harga minyak mentah WTI mengalami rebound (pemulihan) setelah anjlok tajam sehari sebelumnya. Harga kembali naik ke kisaran $96–$98 per barel, mencerminkan pemulihan sekitar 3% dari level terendahnya. WTI diperdagangkan di $97,65 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.30 WIB pada hari Kamis. Kenaikan ini terjadi setelah pasar mulai merespons ketidakpastian lanjutan terkait situasi geopolitik di Timur Tengah, meskipun sebelumnya sempat terjadi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Faktor utama yang mendorong kenaikan kembali harga minyak adalah keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata (ceasefire). Meskipun kesepakatan damai telah diumumkan, laporan terbaru menunjukkan bahwa jalur distribusi minyak global seperti Selat Hormuz masih belum sepenuhnya normal. Bahkan, pembatasan lalu lintas kapal tanker dan ketegangan lanjutan di kawasan tersebut membuat pasar tetap khawatir terhadap potensi gangguan pasokan.

Selain itu, meningkatnya kembali konflik di wilayah sekitar, termasuk serangan lanjutan di Lebanon, turut memperburuk sentimen pasar energi. Hal ini memperkuat persepsi bahwa gencatan senjata bersifat rapuh dan sementara, sehingga risiko supply shock masih tinggi. Akibatnya, pelaku pasar kembali melakukan pembelian minyak sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan terganggunya distribusi energi global.

Dari sisi pasar, pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan kondisi high volatility setelah shock besar. Setelah penurunan lebih dari 15% pada hari sebelumnya akibat ekspektasi normalisasi supply, kini terjadi fase koreksi naik (technical rebound). Namun, pasar masih berada dalam ketidakpastian tinggi karena belum ada kejelasan apakah distribusi minyak global benar-benar akan kembali stabil dalam waktu dekat.

Di sisi lain, lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs mulai menurunkan proyeksi harga minyak jangka pendek, mencerminkan perubahan outlook akibat meredanya sebagian risiko geopolitik. Namun demikian, mereka tetap menekankan bahwa potensi lonjakan harga masih terbuka jika konflik kembali meningkat atau pasokan kembali terganggu.

Secara makro, kondisi ini juga berdampak pada inflasi global. Kenaikan kembali harga minyak berpotensi menahan penurunan inflasi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kebijakan bank sentral seperti Federal Reserve. Hal ini membuat minyak tetap menjadi salah satu indikator utama dalam pergerakan pasar keuangan global saat ini.


sumber : reuters