Dibayang-bayangi Tenggat Waktu Ultimatum Trump, Indeks Dolar AS Menguat Tipis

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak menguat tipis, didukung oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik global. DXY diperdagangkan di 99,84 saat berita ini ditulis Pukul 13.45 WIB pada Hari Selasa. Pasar saat ini berada dalam kondisi risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke dolar AS. Sentimen ini membuat DXY tetap solid meskipun tidak mengalami lonjakan agresif.

Faktor utama penguatan dolar hari ini adalah eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ultimatum Amerika Serikat terhadap Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ketidakpastian yang tinggi serta ancaman konflik militer yang lebih luas membuat investor global meningkatkan eksposur ke dolar AS sebagai aset lindung nilai. Kondisi ini secara langsung meningkatkan permintaan terhadap USD dan menopang pergerakan DXY.

Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan juga turut memperkuat dolar. Harga minyak yang bertahan di atas $110 per barel meningkatkan tekanan inflasi global dan memicu kekhawatiran stagflasi. Dalam situasi seperti ini, dolar AS sering kali diuntungkan karena dianggap sebagai mata uang paling likuid dan stabil dalam kondisi krisis ekonomi global.

Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi di Amerika Serikat juga menjadi pendorong utama DXY. Pelaku pasar semakin yakin bahwa pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tidak akan terjadi dalam waktu dekat, bahkan kemungkinan ditunda hingga akhir tahun. Prospek “higher for longer” ini meningkatkan daya tarik dolar karena memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding mata uang lainnya.

Namun demikian, penguatan dolar saat ini cenderung terbatas dan tidak sepenuhnya dominan. Beberapa analis menilai bahwa meskipun dolar mendapatkan dukungan dari status safe haven, kenaikannya tidak sebesar yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh faktor lain seperti kekuatan emas, obligasi, serta kekhawatiran terhadap dampak ekonomi jangka panjang dari konflik dan harga energi yang tinggi.

Selain itu, pasar juga mulai mempertimbangkan potensi pembalikan arah jika terjadi de-eskalasi konflik atau munculnya kesepakatan diplomatik. Jika ketegangan mereda dan harga minyak turun, maka permintaan safe haven terhadap dolar bisa berkurang dengan cepat. Ini membuat pergerakan DXY tetap rentan terhadap perubahan sentimen yang sangat cepat dalam jangka pendek.


sumber : reuters