Harga Minyak Menguat, Jelang Tenggat Waktu Ultimatum dari Trump
Pada perdagangan hari ini, harga minyak mentah WTI kembali melanjutkan penguatannya dan diperdagangkan di kisaran $115,31 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB pada hari Selasa, bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan ini didorong oleh eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas menjelang tenggat waktu ultimatum dari Presiden AS. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran serius terhadap gangguan pasokan minyak global.
Faktor paling dominan saat ini adalah penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Iran dilaporkan masih menolak tekanan untuk membuka kembali jalur tersebut, sementara Amerika Serikat meningkatkan ancaman militer jika tidak tercapai kesepakatan. Ketegangan ini membuat risiko supply shock menjadi nyata, sehingga mendorong lonjakan harga minyak secara agresif.
Selain faktor geopolitik, kondisi pasar fisik minyak juga menunjukkan ketatnya suplai global. Permintaan terhadap minyak WTI meningkat tajam dari kawasan Eropa dan Asia yang berusaha menggantikan pasokan dari Timur Tengah. Hal ini menyebabkan premium harga WTI melonjak ke level tertinggi dalam sejarah, mencerminkan kelangkaan pasokan jangka pendek dan kompetisi global yang semakin intens.
Di sisi lain, struktur pasar minyak saat ini menunjukkan kondisi backwardation yang kuat, di mana harga kontrak jangka pendek lebih tinggi dibandingkan kontrak jangka panjang. Ini menandakan bahwa pasar sangat membutuhkan pasokan segera (tight supply). Bahkan, dalam kondisi tertentu, harga WTI untuk pengiriman dekat sempat diperdagangkan lebih tinggi dibanding Brent, yang jarang terjadi.
Namun demikian, volatilitas tetap sangat tinggi karena adanya ketidakpastian terkait kemungkinan gencatan senjata. Harapan negosiasi antara AS dan Iran masih ada, meskipun peluangnya dalam jangka pendek relatif kecil. Setiap perkembangan diplomatik dapat memicu koreksi tajam pada harga minyak, seperti yang terlihat dari pergerakan “whipsaw” dalam beberapa hari terakhir.
Dari sisi makroekonomi, lonjakan harga minyak juga mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan potensi stagflasi. Kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya produksi dan konsumsi, sehingga dapat menekan pertumbuhan ekonomi global. Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perkembangan berita terkait energi dan geopolitik.
sumber : reuters
