Trump : Perang Akan Segera Berakhir, tapi Akan Ada "Serangan Dahsyat" Dalam Waktu Dekat

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pidato televisi dari Gedung Putih pada Rabu malam waktu setempat ( Kamis pagi Waktu Indonesia ) terkait perkembangan operasi militer terhadap Iran. Dalam pidatonya, Trump mengeklaim bahwa perang yang sedang berlangsung akan segera berakhir, namun ia tetap menjanjikan serangan “sangat keras” dalam waktu dekat.

Trump menyatakan harapannya bahwa konflik tersebut akan tuntas dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu ke depan. “Kami akan menyelesaikan pekerjaan ini, dan kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat,” tegas Trump saat memaparkan keberhasilan kampanye militer AS yang diberi sandi Operation Epic Fury, Kamis (2/4/2026).

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendukung pernyataan Presiden dan menegaskan kembali empat tujuan utama pemerintahan Trump di Iran, yaitu:

– Menghancurkan pabrik senjata Iran.

– Melumpuhkan kekuatan angkatan laut Iran.

– Menghancurkan armada angkatan udara Iran.

– Menutup segala peluang Iran untuk memiliki senjata nuklir.

Meski demikian, pengamat mencatat adanya pergeseran fokus dari target awal yang ditetapkan pada Maret 2026, di mana sebelumnya AS juga menekankan pada penghapusan ancaman dari kelompok proksi Iran di wilayah tersebut.

Hingga saat ini, belum ada kejelasan apakah perang akan berakhir melalui meja perundingan atau pengerahan pasukan darat. Trump mengeklaim stafnya sedang menjalin komunikasi dengan pejabat Iran, bahkan menyebut Presiden rezim baru Iran telah meminta gencatan senjata. Namun, pihak Iran membantah keras adanya negosiasi tersebut.

Di sisi lain, militer AS terus mengumpulkan pasukan Marinir di wilayah sekitar, yang memicu spekulasi mengenai potensi invasi darat untuk merebut wilayah Iran. Namun, Trump sama sekali tidak menyinggung rencana penggunaan pasukan tersebut dalam pidatonya.

Pidato Trump ini langsung memicu reaksi negatif di pasar global. Harga minyak dunia dan indeks bursa saham terpantau mengalami tekanan akibat ketidakpastian durasi konflik dan ancaman eskalasi serangan infrastruktur yang dilontarkan sang Presiden.

Trump menutup pidatonya dengan memberikan tenggat waktu dua hingga tiga minggu bagi Iran: mencapai kesepakatan diplomatik atau menghadapi pemboman besar-besaran terhadap infrastruktur negara mereka.

Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran mencapai puncaknya pada 28 Februari 2026, ketika AS bersama sekutu utamanya, Israel, meluncurkan serangan udara terkoordinasi ke berbagai titik strategis di wilayah Iran. Eskalasi ini merupakan buntut dari kebuntuan diplomasi selama bertahun-tahun terkait program nuklir Iran dan aktivitas militer mereka di Timur Tengah.

Serangan pembuka tersebut secara mengejutkan berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang seketika mengubah peta politik dan komando militer di negara tersebut. AS menamakan agresi ini sebagai “Operasi Epic Fury” dengan dalih mencegah ancaman nuklir global dan merombak rezim yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.

Hingga kini, dunia internasional masih terbelah dalam menyikapi serangan tersebut, sementara dampak ekonomi global terus dirasakan melalui fluktuasi harga energi dunia.


sumber : investor.id