Harga Emas Catatkan Sejarah Kelam, Terburuk Sejak Empat Dekade

Pasar logam mulia mencatatkan sejarah kelam pada pekan ini. Harga emas dunia berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak 1983. Meroketnya harga energi akibat eskalasi perang di Timur Tengah telah memupuskan harapan investor akan adanya pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Penurunan nilai emas semakin dalam setelah indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil (yield) obligasi melonjak. Hal ini dipicu oleh laporan CBS yang dikutip Bloomberg internasional pada Sabtu (21/3/2026) yang menyebutkan AS tengah mempersiapkan kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran.

Kekhawatiran konflik berkepanjangan akan memicu inflasi membuat para pelaku pasar kini bertaruh 50% Bank Sentral AS alias The Federal Reserve (The Fed) justru akan menaikkan suku bunga pada Oktober mendatang.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, daya tarik emas meredup drastis ketika suku bunga diprediksi tetap tinggi atau bahkan naik.

Kondisi di Selat Hormuz kian memperkeruh suasana. Menurut sumber internal, pejabat Iran kini enggan membahas pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut karena fokus pada pertahanan terhadap serangan. Sementara itu, Pentagon dilaporkan mengirimkan tiga kapal perang dan ribuan personel Marinir tambahan ke kawasan tersebut.

Analis dari StoneX Financial Rhona O’Connell menilai aksi jual ini merupakan kombinasi dari pengambilan untung (profit-taking) dan likuidasi massal.

“Harga di atas US$ 5.200 sebelumnya telah menarik banyak pembeli, sehingga pasar menjadi sangat rentan terhadap koreksi,” jelas O’Connell.

Penurunan ini kian cepat ketika harga menyentuh level stop-loss investor, yang memicu instruksi jual otomatis. Selain itu, dana kelolaan emas atau ETF mencatatkan arus keluar selama tiga minggu berturut-turut dengan total pelepasan lebih dari 60 ton emas.

Pada hari Jumat, harga emas batangan turun 3,21% dan ditutup di level US$ 4.501,31 per ons. Ini menandai penurunan selama delapan hari beruntun, durasi terlama sejak Oktober 2023. Meski mengalami kontraksi hebat, secara tahunan emas masih tercatat naik sekitar 4% dibandingkan awal tahun.

Nasib serupa menimpa logam mulia lainnya; perak anjlok 6,65% dan ditutup di posisi US$ 67,93 per ons, melengkapi kerugian lebih dari 15% hanya dalam satu pekan.

Secara historis, emas selalu dianggap sebagai pelabuhan aman (safe haven) utama saat terjadi gejolak geopolitik. Namun, krisis tahun 2026 menghadirkan dinamika yang berbeda. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran secara langsung telah memicu lonjakan biaya energi global ke level yang mengkhawatirkan, yang pada gilirannya memaksa narasi ekonomi bergeser kembali ke ancaman inflasi tinggi.

Dalam kondisi normal, inflasi tinggi biasanya menguntungkan emas. Namun, ketika inflasi tersebut direspon oleh pasar dengan ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif dari Bank Sentral, emas justru kehilangan pesonanya dibandingkan dengan Dolar AS yang memberikan imbal hasil lebih pasti.

Fenomena “penjualan paksa” untuk menutupi kerugian di pasar saham yang sedang rontok juga menjadi alasan mengapa emas dilepas oleh para investor besar. Situasi ini menunjukkan bahwa dalam skala konflik global yang masif, likuiditas (uang tunai) terkadang dianggap lebih berharga daripada aset fisik, setidaknya hingga pasar menemukan titik keseimbangan baru.


sumber : investor.id