Harga Emas Rontok, Dolar AS Penyebabnya
Harga emas dunia rontok lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (12/3/2026). Pelemahan ini dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta berkurangnya harapan pemangkasan suku bunga The Fed, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik yang melibatkan Iran.
Harga emas anjlok 1,85% dan ditutup di level US$ 5.079,1 per ons.
Penguatan dolar AS yang berlanjut selama tiga hari berturut-turut menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga logam mulia. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.
Kepala strategi pasar Blue Line Futures Phillip Streible mengatakan, penguatan indeks dolar, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta berkurangnya peluang pemangkasan suku bunga menjadi faktor negatif bagi emas.
Namun, lanjutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap memicu aliran dana ke aset safe haven seperti emas.
“Indeks dolar yang lebih tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi, dan minimnya peluang pemangkasan suku bunga menjadi faktor penekan emas. Namun konflik di Timur Tengah juga mendorong sebagian investor mencari perlindungan pada aset safe haven,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah dua kapal tanker dilaporkan terbakar di perairan Irak dalam insiden yang diduga sebagai eskalasi serangan Iran terhadap jalur energi di Timur Tengah. Peristiwa ini mendorong harga minyak dunia melonjak tajam.
Pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, juga menyatakan negaranya akan membalas kematian para martirnya, mempertahankan penutupan Selat Hormuz, serta menyerang pangkalan militer AS.
Kenaikan harga minyak mentah dapat memicu inflasi karena meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Dalam kondisi tersebut, emas biasanya dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang tinggi cenderung menekan harga emas karena investor lebih tertarik pada aset yang memberikan imbal hasil.
Meski demikian, Streible menilai prospek emas masih relatif kuat apabila lonjakan harga minyak dapat dikendalikan. “Jika harga minyak tidak terus naik, emas seharusnya masih berada pada posisi yang baik. Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral dan arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) yang tetap positif sepanjang tahun juga menjadi faktor pendukung,” katanya.
Salah satu contoh datang dari bank sentral Chile yang melakukan pembelian emas besar pertamanya sejak setidaknya tahun 2000. Pada Februari, cadangan emas negara tersebut melonjak menjadi US$1,108 miliar, dari US$42 juta pada Januari, atau setara 2,2% dari total cadangan devisa.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 2,14% dan ditutup di US$ 83,83 per ons, setelah sempat melonjak lebih dari 145% sepanjang tahun lalu.
Analis BMI memperkirakan harga perak akan rata-rata mencapai US$ 93 per ons pada 2026, didorong kuatnya permintaan investasi yang diperkirakan mampu mempertahankan kenaikan harga sejak 2025. Permintaan investasi ini juga dipandang dapat mengimbangi penurunan permintaan dari sektor panel surya dan perhiasan akibat harga yang tinggi.
sumber : investor.id
