Harga Emas Terpukul Penguatan Dolar AS dan Kekhawatiran Inflasi
Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Pelemahan itu karena terpukul penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta kekhawatiran inflasi yang masih tinggi, sehingga memicu ekspektasi suku bunga tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Harga emas spot turun 0,33% dan ditutup di US$ 5.175,92 per ons, setelah sempat menguat pada hari sebelumnya.
Dikutip dari Reuters, pelemahan emas terjadi seiring penguatan indeks dolar AS yang naik sekitar 0,4%. Menguatnya dolar membuat komoditas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.
Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, pasar emas saat ini berada dalam tarik-menarik antara permintaan aset safe haven akibat konflik geopolitik dan kekhawatiran suku bunga tinggi.
“Pasar emas tampaknya berada dalam kondisi tarik-menarik antara permintaan safe haven yang dipicu oleh perang dan kekhawatiran suku bunga yang akan bertahan tinggi lebih lama,” ujarnya.
Secara tradisional, emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Namun, ketika suku bunga tinggi, daya tarik emas cenderung menurun karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Di sisi lain, harga minyak dunia melonjak sekitar 4% setelah terjadi serangan baru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Para analis menilai rencana Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepas cadangan minyak belum cukup meredakan kekhawatiran pasar.
Situasi semakin memanas setelah Iran menyatakan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$ 200 per barel. Pasukan Iran dilaporkan menyerang kapal dagang serta menargetkan Israel dan sejumlah sasaran lain di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, data ekonomi menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,3% pada Februari, sesuai dengan perkiraan pasar dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Januari. Secara tahunan, inflasi mencapai 2,4% hingga Februari, juga sejalan dengan ekspektasi.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Januari yang tertunda dan dijadwalkan diumumkan pada Jumat mendatang, yang kerap menjadi acuan utama bank sentral AS dalam memantau inflasi.
Analis Standard Chartered menyebut tekanan terhadap harga emas dalam jangka pendek masih mungkin terjadi karena investor membutuhkan likuiditas.
Meski demikian, mereka tetap mempertahankan pandangan positif untuk jangka panjang. “Kami masih melihat prospek emas tetap positif dalam jangka panjang dan memperkirakan tren kenaikan akan berlanjut setelah fase ambil untung dalam jangka pendek,” tulis mereka.
Adapun logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 3,5% dan ditutup di US$ 85,73 per ons.
sumber : investor.id
