Harga Minyak Melejit, Dekati Level Tertinggi Juli 2024
Harga minyak dunia melejit 4% lebih pada penutupan perdagangan Kamis (5/3/2026) waktu setempat. Kenaikan ini memperpanjang reli harga setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 3,69% dan ditutup di level US$ 78,87 per barel, sempat ke US$ 82,13 per barel yang merupakan posisi tertinggi sejak Juli 2024.
Analis menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong utama lonjakan harga minyak. Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah mengganggu jalur pelayaran serta memaksa sejumlah produsen besar di kawasan Timur Tengah memangkas produksi.
Mitra Again Capital, John Kilduff, mengatakan situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar energi global.
“Jika tidak ada pergerakan kapal di Selat Hormuz, harga minyak kemungkinan akan terus naik. Selain itu, ketika negara-negara harus menghentikan produksi, pemulihan produksi tidak bisa langsung kembali normal dalam waktu cepat,” ujar Kilduff dikutip dari Reuters.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Penutupan jalur tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dalam skala besar.
Analis JPMorgan memperkirakan pasokan minyak dari Irak dan Kuwait bisa mulai terhenti dalam beberapa hari apabila Selat Hormuz tetap tertutup. Kondisi tersebut berpotensi memangkas pasokan hingga 3,3 juta barel per hari pada hari kedelapan konflik.
Senior Vice President Trading BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan harga minyak akan sangat sensitif terhadap situasi di selat tersebut.
“Jika penutupan berlangsung lebih lama, produksi di wilayah pengekspor akan melambat. Bahkan setelah selat dibuka kembali, proses pemulihan produksi dan pengiriman membutuhkan waktu,” kata Kissler.
Irak, produsen minyak terbesar kedua di dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dilaporkan memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari karena keterbatasan penyimpanan dan jalur ekspor.
Sementara itu, Qatar—produsen gas alam cair terbesar di kawasan Teluk—menyatakan force majeure atas ekspor gasnya pada Rabu. Sumber industri menyebutkan produksi kemungkinan baru kembali normal setidaknya dalam waktu satu bulan.
Ketegangan juga meningkat di sektor pelayaran energi. Serangan terhadap kapal tanker minyak dilaporkan terus terjadi di kawasan Teluk.
Kapal tanker minyak mentah berbendera Bahama, Sonangol Namibe, melaporkan lambung kapal mengalami kerusakan setelah ledakan terjadi di dekat pelabuhan Khor al Zubair di Irak.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan serangan terhadap tanker serta langkah China untuk mengurangi ekspor bahan bakar turut mendorong kenaikan harga minyak. Selain itu, pasar produk olahan minyak mulai menunjukkan tekanan akibat berkurangnya ekspor dari Timur Tengah.
Beberapa kilang minyak di Timur Tengah, China, dan India juga dilaporkan menghentikan sebagian operasionalnya akibat konflik yang terus memanas.
Data pelacakan kapal dari Vortexa dan Kpler juga menunjukkan sekitar 300 kapal tanker minyak masih berada di dalam Selat Hormuz. Lalu lintas kapal keluar-masuk jalur tersebut hampir terhenti sejak perang pecah.
Konflik sendiri terus meluas di kawasan. Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel pada Kamis pagi, memaksa jutaan warga berlindung di bunker ketika perang memasuki hari keenam.
Sehari sebelumnya, kapal selam AS dilaporkan menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 80 orang. Sistem pertahanan udara NATO juga menghancurkan rudal balistik Iran yang diarahkan ke wilayah Turki.
sumber : investor.id
