Harga Emas Rontok, Penguatan Dolar AS Pemicunya

Harga emas dunia rontok lebih dari 4% pada perdagangan Selasa (3/3/2026) waktu setempat. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta meredupnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi penekan utama, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik Timur Tengah yang berpotensi berkepanjangan.

Harga emas spot anjlok 4,39% dan ditutup di US$ 5.088,14 per ons. Padahal sehari sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari empat pekan.

Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan, pelemahan emas dipicu oleh peralihan investor ke aset likuid, khususnya dolar AS. “Penurunan harga emas tampaknya didorong oleh flight to liquidity atau peralihan ke kas. Dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik,” ujarnya dikutip dari Reuters.

Dolar AS, yang juga dianggap sebagai aset safe haven, menguat signifikan sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik untuk dua sesi berturut-turut.

Meski demikian, Haberkorn menilai koreksi ini berpotensi hanya sementara. Menurutnya, arus dana ke aset aman akibat risiko geopolitik masih dapat menopang harga emas dan perak ke depan.

Di sisi geopolitik, konflik Iran memasuki hari keempat setelah ledakan mengguncang Teheran dan Beirut. Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran pada Senin menyatakan Selat Hormuz telah ditutup.

Pernyataan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah global lebih dari 8% pada Selasa.

Analis pasar City Index dan FOREX.com Fawad Razaqzada menilai, kerusakan infrastruktur energi serta terganggunya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz meningkatkan risiko kenaikan harga minyak, gas, dan produk olahan secara berkelanjutan.

Kondisi ini berpotensi memicu tekanan inflasi lebih lanjut dan menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS. Situasi tersebut membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya dalam jangka pendek.

Sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak, emas umumnya lebih diminati dalam lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil bunga.

Secara tahunan, harga emas spot masih mencatat kenaikan 19% sepanjang tahun ini, setelah melonjak 64% sepanjang 2025.

Namun pada perdagangan terbaru, harga perak spot terjun bebas sebesar 8,16% dan ditutup di level US$ 82,02 per ons, setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lebih dari empat pekan. Sepanjang tahun berjalan, perak masih menguat lebih dari 15%.


sumber : investor.id