Harga Emas Loncat, Setelah Melemah Sehari Sebelumnya
Harga emas dunia loncat pada perdagangan Rabu (25/2/2026), setelah sempat turun pada sehari sebelumnya. Penguatan itu didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah kekhawatiran inflasi akibat kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Reuters, penguatan harga emas juga didukung memanasnya tensi geopolitik antara AS dan Iran.
Harga emas spot naik 0,41% dan ditutup di US$ 5.164,8 per ons.
Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah AS mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10%. Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk menaikkan tarif tersebut menjadi 15%.
Dalam pidato kenegaraannya, Trump menyebut hampir seluruh negara dan korporasi besar ingin mempertahankan perjanjian tarif dan investasi yang sudah ada dengan Washington. Di sisi lain, ia juga menegaskan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, bahkan membuka kemungkinan serangan militer terhadap negara tersebut.
Meski demikian, AS dan Iran dijadwalkan melanjutkan putaran ketiga pembicaraan nuklir di Jenewa pada Kamis (26/2/2026).
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan, kebijakan tarif dan lonjakan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi baru. “Ada dampak inflasi dari tarif dan harga minyak yang tinggi, terutama jika ancaman serangan benar-benar terjadi. Investor tampaknya mulai melakukan lindung nilai dan beralih ke emas,” ujarnya.
Emas dikenal sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian ekonomi dan politik meningkat. Selain itu, logam mulia ini juga kerap diburu sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, meskipun tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak sekitar 20%. Bahkan pada 29 Januari 2026 lalu, emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$ 5.594,82 per ons.
Bank of America dalam catatannya menyebut laju penambahan posisi investor di emas memang mulai melambat. Karena itu, harga emas berpotensi mengalami fase konsolidasi hingga musim semi. Namun, ketidakpastian tarif yang kembali meningkat diperkirakan bisa memperpendek periode pelemahan tersebut.
Bank tersebut memproyeksikan harga emas berpeluang menembus US$ 6.000 per ons dalam 12 bulan ke depan.
Tak hanya emas, harga logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan tajam. Harga perak spot melesat 2,39% dan ditutup di US$ 89,2 per ons, tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Sebelumnya, pada 29 Januari 2026, perak sempat menyentuh rekor sepanjang masa di US$ 121,61 per ons.
Bank of America memperkirakan harga perak berpotensi kembali menembus US$ 100 per ons tahun ini.
sumber : investor.id
