Harga Emas Anjlok, Setelah Sempat Sentuh Level Tertinggi Tiga Minggu

Harga emas dunia anjlok 1% pada perdagangan Selasa (24/2/2026), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan. Aksi ambil untung (profit taking) dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menghantam logam mulia tersebut.

Harga emas spot anjlok 1,6% dan ditutup di level US$ 5.143,72 per ons.

Dikutip dari CNBC internasional, penguatan dolar AS sebesar 0,1% membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kondisi ini biasanya menekan minat beli dan membatasi kenaikan harga emas.

Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff menilai, pelemahan ini lebih bersifat koreksi teknikal. “Harga emas sebelumnya kembali dalam tren naik, jadi saya menduga ini hanya pullback korektif. Dolar yang lebih kuat juga memberikan pengaruh negatif terhadap harga,” ujarnya.

Sebelumnya, harga emas sempat melonjak ke level tertinggi tiga pekan setelah Presiden AS Donald Trump berjanji menaikkan tarif menjadi 15%. Pernyataan itu muncul menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan penggunaan undang-undang darurat untuk mengenakan tarif telah melampaui kewenangannya.

Meski demikian, pada Selasa, AS tetap memberlakukan tarif 10% terhadap seluruh barang yang tidak dikecualikan, sebagaimana diumumkan Trump pada Jumat sebelumnya.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik juga masih membayangi pasar. Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir di Jenewa pada Kamis (26/2/2026). Pembicaraan ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran risiko konflik militer antara kedua negara yang telah lama berseteru.

Menurut Wyckoff, permintaan aset safe haven masih solid. Ketegangan Iran-AS dan ketidakpastian tarif membatasi tekanan jual emas sehingga fundamentalnya tetap terjaga. “Namun, ketika harga mendekati rekor tertinggi, resistensinya akan semakin kuat. Untuk menembus level baru, kemungkinan dibutuhkan katalis geopolitik yang segar,” katanya.

Emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang cenderung diminati saat terjadi ketidakpastian ekonomi maupun geopolitik.

Secara terpisah, Presiden The Fed Atlanta yang akan segera lengser, Raphael Bostic, mengatakan kepada Reuters bahwa AS berpotensi memasuki fase pengangguran yang lebih tinggi secara struktural.

Hal itu terjadi seiring perusahaan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) untuk menekan kebutuhan tenaga kerja, sebuah tren yang mungkin sulit diimbangi oleh The Fed hanya dengan penurunan suku bunga.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun tipis 1,19% dan ditutup di US$ 87,12 per ons, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi lebih dari dua pekan pada Senin.


sumber : investor.id