Tren Harga Emas Bullish, Meski Ada Koreksi di Tiap Sesi
Pengusaha tambang mengaku optimis bahwa harga emas dunia masih memiliki fundamental untuk melanjutkan penguatan, meski telah mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir.
Dkutip dari Kitco News, Jumat (20/2/2026), harga emas spot mencapai kisaran harian yang lebih tinggi antara US$ 4.976 dan US$ 5.020 pada Kamis pagi (19/2) waktu AS, dan ditutup di US$ 4.995,92 per troy ons dengan kenaikan 0,38% pada hari tersebut.
“Terlepas dari volatilitas harga, dunia masih akan membutuhkan lebih banyak tembaga, dan emas tetap menjadi aset safe-haven,” kata CEO American Pacific Mining, Warwick Smith dalam wawancara dengan Kitco News.
“Tidak ada komoditas yang pernah langsung naik begitu saja. Tetapi itu tidak mengubah gambaran jangka panjang,” ucapnya.
Smith mencatat, reli harga emas yang eksplosif dari paruh kedua tahun 2025 hingga bulan Januari 2026 memicu momentum signifikan di sektor pertambangan. Selama 12 bulan terakhir, ETF VanEck Gold Miners telah naik 140%, dibandingkan dengan kenaikan harga emas sekitar 64%.
Smith mengakui terjadinya gangguan psikologis di pasar yang disebabkan oleh koreksi tersebut; namun, ia menambahkan bahwa, harga emas dan saham pertambangan logam mulia masih memiliki ruang untuk balik arah.
“Enam bulan lalu, kita nyaman melihat harga emas di US$ 3.000. Sekarang harga emas mendekati US$ 5.000 per troy ons dan saham perusahaan pertambangan turun setengahnya. Perubahan seperti itu mengguncang kepercayaan,” katanya.
Meskipun terjadi koreksi, Smith mengatakan dia tidak melihat perubahan apa pun dalam peran makro emas. Dia memperkirakan bahwa fragmentasi global, proteksionisme, dan ketegangan geopolitik terus mendukung permintaan logam mulia.
Selain itu, aksi jual pada bulan Januari 2026 dinilai lebih berkaitan dengan posisi dan ekspansi berlebihan daripada perubahan permintaan yang signifikan.
sumber : investor.id
