Tren Bullish Emas Berlanjut, Seiring Kuatnya Permintaan Aset Safe Haven
Tren bullish harga emas dunia masih berlanjut, seiring kuatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Analis memproyeksikan emas berpeluang menguji level resistance berikutnya di kisaran US$ 5.041 per ons, selama momentum penguatan tetap terjaga.
Pada perdagangan Kamis (19/2/2026), harga emas menguat di kisaran US$ 5.020,05 per ons saat berita ini ditulis Pukul 14.10 WIB. Level ini menunjukkan pemulihan signifikan setelah emas sempat terkoreksi lebih dari 2% pada hari Selasa. Sepanjang 2026, harga emas masih mencatatkan kenaikan sebesar 15,24%.
Minat beli kembali meningkat menjelang rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC), yang menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga.
Seperti diketahui, The Fed masih mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%. Namun, perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral terkait prospek pelonggaran moneter membuat pasar tetap berhati-hati.
Secara teknikal struktur pergerakan emas menunjukkan tren bullish yang semakin solid, didukung pola candlestick dan indikator Moving Average yang mengarah naik.
Tren bullish pada harga emas masih dominan. Jika momentum penguatan terus berlanjut, harga emas berpotensi menguji level resistance berikutnya di kisaran US$ 5.041 per ons. Namun, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai potensi koreksi jika momentum melemah.
Level support penting saat ini berada di area US$ 4.911 per ons. Jika harga turun menembus level tersebut, emas berpotensi mengalami koreksi lebih dalam sebelum kembali stabil.
Dari sisi fundamental, meningkatnya ketegangan geopolitik turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance terkait negosiasi nuklir Iran memicu kekhawatiran pasar, terutama setelah Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan penggunaan opsi militer jika diplomasi tidak membuahkan hasil.
Ketidakpastian ini mendorong investor beralih ke emas sebagai instrumen perlindungan nilai di tengah risiko global yang meningkat.
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan suku bunga The Fed juga menjadi katalis utama pergerakan emas. Risalah FOMC terbaru menunjukkan sebagian pejabat masih berhati-hati terhadap risiko inflasi, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan harga kembali meningkat.
Kondisi ini sempat menopang dolar AS, yang secara historis menjadi faktor pembatas kenaikan emas.
Namun, data ekonomi AS yang beragam menciptakan dinamika tersendiri. Penurunan inflasi memberikan harapan pelonggaran kebijakan moneter, sementara pasar tenaga kerja yang tetap solid menunjukkan ekonomi masih kuat. Kombinasi ini menciptakan volatilitas, sekaligus menjaga prospek emas tetap positif.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk klaim pengangguran awal, penjualan rumah tertunda, Produk Domestik Bruto (PDB), serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE).
Data-data tersebut akan menjadi faktor penentu arah kebijakan The Fed dan pergerakan emas dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, peluang penguatan emas masih terbuka selama sentimen safe haven tetap dominan dan indikator teknikal mendukung. Dengan resistance di US$ 5.041 dan support di US$ 4.911, investor disarankan tetap mencermati perkembangan pasar dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin, mengingat volatilitas emas masih tinggi dalam waktu dekat.
sumber : investor.id
