Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam, Catatkan Kenaikan Mingguan

Harga emas dunia melonjak tajam dan mencatatkan kenaikan mingguan pada perdagangan Jumat (6/2/2026), setelah sehari sebelumnya anjlok parah. Rebound ini ditopang aksi berburu harga murah (bargain hunting), pelemahan tipis dolar Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC internasional, penguatan emas dan perak juga ditopang masih adanya kekhawatiran pasar terkait perkembangan pembicaraan antara AS dan Iran yang dimediasi Oman.

Harga emas melonjak 3,63% dan ditutup di level US$ 4.952,9 per ons. Penguatan ini berhasil memangkas pelemahan tajam pada sesi Asia, setelah emas sehari sebelumnya anjlok 3,9%. Secara mingguan, emas menguat 1,75%. Sedangkan sepanjang 2026, emas masih mencatatkan kenaikan hampir 13%.

Pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,2% turut memberikan sentimen positif, karena membuat harga emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli global.

“Pasar emas saat ini melihat adanya aksi bargain hunting dari pelaku pasar yang masih berpandangan bullish,” ujar analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff.

Dari sisi geopolitik, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa perundingan nuklir dengan AS yang dimediasi Oman berjalan dengan ‘awal yang baik’ dan akan berlanjut. Pernyataan ini sedikit meredakan kekhawatiran pasar bahwa kegagalan negosiasi dapat meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, Wyckoff menilai pemulihan harga emas masih belum memiliki momentum yang kuat. Menurutnya, tanpa pemicu geopolitik besar, harga emas cenderung sulit mencetak rekor baru dalam waktu dekat.

Sebagai aset lindung nilai (safe haven), emas umumnya diuntungkan saat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi meningkat.

Di sisi lain, harga perak juga bangkit cukup tajam. Perak spot melesat 9,35% dan ditutup di level US$ 77,45 per ons, setelah sempat tertekan hingga di bawah US$ 65 pada awal sesi. Namun secara mingguan, harga perak masih tercatat ambles sekitar 8%, melanjutkan tren penurunan tajam pada pekan sebelumnya.

“Apa yang terjadi di perak saat ini lebih didorong oleh spekulasi besar di sisi beli,” kata Wyckoff seraya menambahkan, setelah bertahun-tahun berada dalam fase booming, emas dan perak kini mulai memasuki fase koreksi yang lazim terjadi pada siklus komoditas.

Untuk meredam risiko volatilitas yang meningkat, CME Group kembali menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka emas dan perak, untuk ketiga kalinya dalam dua pekan terakhir.


sumber : investor.id