Harga Emas dan Perak Loncat, Namun Tetap Melemah Secara Mingguan

Harga emas dan perak loncat pada perdagangan Jumat (6/2/2026), namun tetap mengarah mencatatkan pelemahan untuk pekan kedua berturut-turut. Tekanan datang dari aksi jual di saham-saham teknologi global serta penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang menggerus daya tarik logam mulia.

Harga emas hari ini melesat 1,35% ke level US$ 4.845,45 per ons saat berita ditulis Pukul 13.40 WIB. Meski demikian, secara mingguan emas masih terkoreksi 1,4%.

Pergerakan lebih tajam terlihat pada perak. Harga perak hari ini melesat 2,63% ke US$ 72,82 per ons, setelah anjlok 19,1% pada hari sebelumnya. Bahkan, harga perak sempat merosot hingga 10% di level US$ 64,04 per ons, menyentuh posisi terendah dalam lebih dari satu setengah bulan.

Secara mingguan, perak diperkirakan mencatatkan penurunan hampir 16%, setelah pada pekan lalu ambles 18%, menjadi pelemahan mingguan terdalam sejak 2011.

Tekanan terhadap perak dinilai berkaitan erat dengan memburuknya sentimen risiko global. Kepala Global Macro Tastylive, Ilya Spivak, mengatakan minat risiko investor terlihat semakin melemah seiring penurunan pasar saham dan gejolak di aset berisiko lainnya, termasuk kripto.

“Dalam kondisi risk-off seperti ini, emas relatif masih bertahan, sementara perak justru tertekan lebih dalam,” ujarnya.

Pasar saham global kembali melanjutkan pelemahan untuk sesi ketiga berturut-turut, dipimpin oleh aksi jual di Wall Street. Volatilitas tinggi juga melanda pasar logam mulia dan aset kripto, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor.

JP Morgan dalam catatan terbarunya menilai valuasi perak saat ini tergolong mahal, sehingga rentan mengalami koreksi besar saat sentimen pasar memburuk. Meski begitu, bank investasi tersebut masih melihat batas bawah harga perak di kisaran US$ 75 – 80 per ons dalam jangka pendek, dengan potensi pemulihan menuju US$ 90 per ons pada tahun depan.

Di sisi lain, dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam dua pekan terakhir dan bersiap mencatatkan kinerja mingguan terkuat sejak November. Penguatan dolar membuat aset berdenominasi dolar, termasuk logam mulia, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali masing-masing 25 basis poin pada 2026, dengan pemangkasan pertama diproyeksikan terjadi pada Juni. Dalam kondisi suku bunga rendah, aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas umumnya lebih diminati.


sumber : investor.id