Harga Emas Menguat, Setelah Alami Koreksi Terdalam Beberapa Tahun Terakhir
Harga emas dunia menguat pada perdagangan Rabu (4/2/2026) waktu setempat, setelah mengalami koreksi terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, pakar mengingatkan pergerakan emas ke depan masih akan diwarnai volatilitas tinggi, seiring ketidakpastian arah dolar Amerika Serikat (AS) dan kebijakan suku bunga global.
Harga emas naik 0,36% dan ditutup di level US$ 4.964,70 per ons.
Dikutip dari CNBC internasional, penguatan ini terjadi setelah harga emas sempat tertekan hampir 10% pada akhir pekan lalu. Koreksi tajam tersebut memicu kembali aksi beli di tengah stabilnya pasar global dan pelemahan dolar AS.
“Pemulihan harga emas mencerminkan kembalinya minat beli setelah salah satu koreksi paling tajam di pasar logam mulia dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika pasar global mulai stabil dan dolar AS melemah,” ujar analis komoditas ING Ewa Manthey.
Indeks dolar AS pada Rabu tercatat relatif stabil di level 97,51, namun masih turun cukup dalam dibandingkan puncaknya di 99,29 pada 15 Januari 2026 lalu. Pelemahan dolar ini menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan harga emas.
Kinerja positif juga terlihat pada saham-saham perusahaan tambang di London. Saham Rio Tinto menguat 1%, Anglo American naik 0,7%, sementara Antofagasta terkoreksi tipis sekitar 0,2%. Indeks FTSE 350 Precious Metals and Mining Total Return tercatat naik 2% ke kisaran 34.963.
Sementara itu, CEO UBS Sergio Ermotti mengungkapkan bahwa nasabah bank tersebut kini cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana investasinya.
“Mereka mencari perlindungan dan mulai sedikit menjauh dari sektor teknologi,” ujar Ermotti. Ia menambahkan, dana tunai berlebih mulai dialokasikan kembali ke pasar modal, termasuk ke aset logam mulia, meskipun secara umum investor masih bertahan pada alokasi aset yang ada.
Dari sisi prospek, analis menilai kenaikan harga emas selanjutnya berpotensi lebih terbatas. Menurut Manthey, volatilitas jangka pendek masih akan berlanjut, namun reli kali ini lebih bersifat penyesuaian posisi pasar, bukan pembalikan tren jangka panjang.
“Dalam beberapa pekan ke depan, arah pergerakan harga emas akan sangat ditentukan oleh dinamika dolar AS, ekspektasi suku bunga, dan sentimen risiko. Kenaikan harga cenderung lebih bertahap, bukan seagresif tiga bulan terakhir,” jelasnya.
Sejumlah lembaga keuangan global tetap optimistis terhadap prospek emas. Goldman Sachs mematok target harga emas di level US$ 5.400 per ons troi pada akhir 2026, dengan asumsi pembelian emas oleh bank sentral tetap kuat dan minat investor terhadap ETF emas meningkat seiring potensi penurunan suku bunga The Fed.
Sementara itu, BofA Securities bahkan memasang target lebih agresif, yakni US$ 6.000 per ons dalam beberapa bulan mendatang. Meski demikian, BofA mengingatkan bahwa lonjakan harga yang terlalu cepat disertai volatilitas tinggi tetap menjadi sumber kekhawatiran.
Ketidakpastian politik menjelang pemilu sela (mid-term elections) AS pada November, serta arah kebijakan suku bunga di bawah kepemimpinan Ketua The Fed berikutnya yang dinominasikan Presiden Donald Trump, Kevin Warsh, turut membayangi prospek pasar emas.
“Dampak akhir dari kebijakan The Fed di bawah Kevin Warsh terhadap logam mulia memang belum sepenuhnya jelas. Namun, pasar menilai bank sentral AS ke depan bisa lebih pragmatis dan kurang bergantung pada data, yang pada akhirnya berpotensi membuka ruang pelonggaran kebijakan,” tulis BofA dalam risetnya.
Seiring penguatan emas, harga perak juga mencatatkan kenaikan, Setelah sempat anjlok sekitar 30% dalam satu hari pada pekan lalu. Harga perak spot naik 3,37% dan ditutup di level US$ 88,1 per ons.
sumber : investor.id
