Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam, Setelah Aksi Jual Hebat Akhir Pekan Lalu
Harga emas dan perak dunia melonjak tajam pada perdagangan Selasa (3/2/2026), setelah mengalami aksi jual hebat pada akhir pekan lalu. Kebangkitan harga logam mulia ini ikut mengangkat saham-saham tambang serta produk reksa dana berbasis logam mulia di berbagai bursa global.
Harga emas spot tercatat melonjak 6,13% dan ditutup di level US$ 4.946,86 per ons.
Harga perak juga mencatatkan pemulihan signifikan. Harga perak spot melejit 7,65% dan ditutup di US$ 85,23 per ons.
Dikutip dari CNCB Internasioal, penguatan ini menjadi respons atas kejatuhan tajam sebelumnya. Pada Jumat (30/1/2026), harga emas anjlok hampir 10%, sementara harga perak ambrol hingga 30% dalam satu hari, menjadi penurunan harian terburuk sejak 1980.
Seiring naiknya harga logam mulia, saham-saham pertambangan dan exchange-traded funds (ETF) berbasis emas dan perak yang tercatat di berbagai negara turut mencatatkan penguatan.
Di Bursa London, saham perusahaan tambang besar bergerak positif. Rio Tinto naik 2,2%, Anglo American menguat lebih dari 3%, dan Antofagasta melonjak 2,5%. Fresnillo, produsen perak terbesar dunia sekaligus saham dengan kinerja terbaik di indeks FTSE 100 sepanjang 2025, tercatat naik 3,1%.
Di AS, ETF berbasis perak mencatat lonjakan signifikan menjelang pembukaan pasar. ProShares Ultra Silver ETF melonjak sekitar 15%, sementara abrdn Physical Silver Shares ETF dan iShares Silver Trust (SLV), yang sebelumnya menjadi pusat euforia investor ritel, masing-masing menguat sekitar 8,3%.
Saham-saham perusahaan tambang emas dan perak yang tercatat di AS juga bergerak naik tajam. Endeavour Silver melonjak 7,5% pada perdagangan pra-pasar, Coeur Mining menguat 7,7%, sementara Hecla Mining dan First Majestic Silver masing-masing naik sekitar 8%.
Pemulihan harga ini terjadi di tengah evaluasi investor atas apakah kejatuhan sebelumnya menandai perubahan struktural pasar, atau sekadar reaksi berlebihan terhadap faktor jangka pendek.
Analis Deutsche Bank menilai sejarah menunjukkan pergerakan tersebut lebih dipicu faktor jangka pendek, meski skala aksi jual memang memunculkan pertanyaan baru terkait posisi pasar. Bank tersebut mencatat bahwa meskipun aktivitas spekulatif meningkat dalam beberapa bulan terakhir, faktor tersebut belum cukup menjelaskan besarnya kejatuhan harga pekan lalu.
“Penyesuaian harga logam mulia tampaknya melampaui signifikansi pemicu yang ada. Selain itu, niat investor, baik resmi, institusional, maupun individu, kemungkinan besar tidak berubah menjadi lebih negatif,” tulis Deutsche Bank dalam risetnya.
Aksi jual sebelumnya dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, mulai dari penguatan dolar AS, perubahan ekspektasi terkait kepemimpinan Federal Reserve setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya, hingga aksi pengurangan posisi menjelang akhir pekan.
Deutsche Bank menegaskan, prospek investasi emas dan perak secara fundamental masih solid. Faktor pendorong utama emas dinilai tetap positif dan kecil kemungkinan terjadi pembalikan tren harga secara berkelanjutan, berbeda dengan kondisi pelemahan emas pada era 1980-an dan 2013.
Nada serupa disampaikan Barclays. Meski mengakui kondisi teknikal pasar sudah cukup panas dan posisi investor relatif padat, Barclays menilai permintaan terhadap emas masih akan bertahan kuat, didorong ketidakpastian geopolitik, kebijakan global, serta tren diversifikasi cadangan devisa.
Sementara itu, volatilitas perak dinilai lebih ekstrem karena ukuran pasarnya yang lebih kecil dan tingginya partisipasi investor ritel. Namun, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek jangka menengah hingga panjang logam putih tersebut.
“Posisi spekulatif memang berperan dalam jangka pendek. Perak lebih banyak menarik investor ritel dibanding emas, sehingga lebih sensitif terhadap perubahan sentimen dan perdagangan jangka pendek,” ujar analis pasar eToro Zavier Wong.
Meski demikian, Wong menilai terlalu sederhana jika seluruh pergerakan harga perak hanya dikaitkan dengan spekulasi. Perak memiliki permintaan industri yang nyata, terutama dari sektor pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Sebuah studi yang dirilis Januari lalu memproyeksikan permintaan perak global akan melonjak signifikan hingga akhir dekade ini, terutama didorong oleh industri panel surya dan peralihan ke teknologi sel yang lebih intensif menggunakan perak.
Total permintaan diperkirakan mencapai 48.000–54.000 ton per tahun pada 2030, sementara pasokan diproyeksikan hanya sekitar 34.000 ton. Artinya, hanya 62%–70% kebutuhan global yang dapat terpenuhi.
Sektor energi surya sendiri diperkirakan akan menyerap 10.000–14.000 ton perak per tahun, atau hingga 41% dari total pasokan global.
sumber : investor.id
