Tok! The Fed Tahan Suku Bunga, Hentikan Tren Pemangkasan Sebelumnya

Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%–3,75% dalam rapat kebijakan yang digelar Rabu (28/1/2026). Keputusan ini menghentikan tren pemangkasan suku bunga yang sebelumnya dilakukan tiga kali berturut-turut.

Dikutip dari CNBC internasional, keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar, di tengah pandangan The Fed yang semakin optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi AS serta menurunnya kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja.

Dalam pernyataan resminya, Federal Open Market Committee (FOMC) menyebut aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju yang solid. “Indikator yang tersedia menunjukkan aktivitas ekonomi berkembang dengan baik. Pertumbuhan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Sementara itu, inflasi masih relatif tinggi,” tulis The Fed.

The Fed juga menghapus kalimat yang sebelumnya menyebut risiko pelemahan pasar tenaga kerja lebih besar dibandingkan risiko inflasi. Langkah ini menandakan keseimbangan baru dalam mandat ganda bank sentral, yakni menjaga stabilitas harga dan mencapai lapangan kerja penuh, sekaligus memperkuat sinyal jeda pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Meski demikian, The Fed tidak memberikan panduan yang jelas terkait arah kebijakan selanjutnya. Pasar memperkirakan bank sentral baru akan menyesuaikan suku bunga paling cepat pada Juni mendatang. The Fed menegaskan setiap keputusan ke depan akan bergantung pada data ekonomi terbaru, prospek ke depan, serta keseimbangan risiko.

Pasca-keputusan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, sementara indeks S&P 500 bergerak mendatar di sekitar level 7.000.

Seperti pada beberapa pertemuan sebelumnya, keputusan ini tidak diambil secara bulat. Gubernur Stephen Miran dan Christopher Waller memilih dissent dengan mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ini menjadi dissent keempat berturut-turut bagi Miran, meski sebelumnya ia sempat mendorong pemangkasan yang lebih agresif.

Keduanya merupakan pejabat yang ditunjuk Presiden AS Donald Trump. Masa jabatan Miran akan berakhir akhir pekan ini, sementara Waller sempat diwawancarai sebagai kandidat Ketua The Fed, meski peluangnya dinilai kecil. Keputusan yang terkesan rutin ini terjadi di tengah situasi yang jauh dari normal bagi bank sentral.

Ketua The Fed Jerome Powell hanya memiliki dua kali rapat kebijakan tersisa sebelum masa jabatannya berakhir, menutup delapan tahun kepemimpinan yang penuh gejolak, mulai dari pandemi global, resesi tajam, hingga ketegangan berkepanjangan dengan Trump.

“Jika melihat data sejak pertemuan terakhir, terlihat jelas perbaikan prospek pertumbuhan. Inflasi bergerak sesuai perkiraan, dan beberapa data tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilisasi,” ujar Powell dalam konferensi pers.

Di sisi lain, tekanan politik terhadap The Fed terus meningkat. Departemen Kehakiman AS bahkan telah memanggil Powell terkait renovasi besar kantor pusat The Fed di Washington DC. Sebelumnya, Trump juga beberapa kali mengancam akan memecat Powell dan telah berupaya memberhentikan Gubernur Lisa Cook, yang kini masih menunggu putusan Mahkamah Agung AS.

Powell menyebut perkara tersebut sebagai salah satu yang paling penting dalam sejarah 113 tahun The Fed, karena menyangkut independensi bank sentral dari intervensi politik.

Dari sisi ekonomi, AS menghadapi kondisi yang beragam. Pertumbuhan ekonomi tergolong kuat, dengan produk domestik bruto (PDB) kuartal III melesat 4,4%, sementara kuartal IV diperkirakan tumbuh 5,4%, menurut data Federal Reserve Atlanta.

Namun, pasar tenaga kerja melambat seiring pengetatan kebijakan imigrasi oleh pemerintahan Trump. Meski begitu, gelombang pemutusan hubungan kerja relatif terbatas, dengan klaim pengangguran awal berada di level terendah dalam dua tahun terakhir.

Inflasi tetap menjadi tantangan utama. Meski sudah jauh dari puncaknya pada 2022, laju inflasi masih berada di kisaran 3%, di atas target The Fed sebesar 2%. Hal ini membuat sebagian pejabat FOMC memilih untuk menahan, bahkan menghentikan, pelonggaran moneter hingga ada bukti kuat inflasi benar-benar mereda.

Selain itu, kebijakan tarif impor Trump turut memberi tekanan inflasi dalam jangka pendek, meski ekonom The Fed menilai dampaknya akan mereda pada paruh akhir tahun ini.

Pasar berjangka saat ini memperkirakan maksimal dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026 dan tidak ada pemangkasan pada 2027, siapa pun ketua The Fed berikutnya. Pasar prediksi menempatkan Chief Investment Officer obligasi BlackRock, Rick Rieder, sebagai kandidat terkuat pengganti Powell.


sumber : investor.id