Harga Emas Tembus $5.100, sedangkan Perak Tembus $100

Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) dengan menembus level US$ 5.100 per ons  pada perdagangan Senin (26/1/2026). Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor berbondong-bondong memburu aset lindung nilai (safe haven).

Harga emas spot naik sekitar 0,53% dan ditutup di level US$ 5.008,13 per ons, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di US$ 5.110,86 per ons.

Dikutip dari Reuters, tak hanya emas, logam mulia lainnya juga ikut berpesta. Harga perak dan platinum sama-sama menembus rekor tertinggi baru, mencerminkan derasnya arus dana ke pasar logam mulia di tengah ketidakpastian global.

Presiden Sprott Inc Ryan McIntyre mengatakan, harga emas terus mendapat dukungan kuat dari meningkatnya risiko geopolitik dan ekonomi. Selain itu, bank sentral global masih agresif membeli emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa dan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

“Di saat yang sama, arus dana investor ke exchange traded fund (ETF) berbasis emas fisik kembali meningkat, dengan kepemilikan ETF naik sekitar 20% secara tahunan,” ujar McIntyre.

Sentimen pasar semakin dipanaskan oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang pada akhir pekan lalu mengancam akan mengenakan tarif sebesar 100% terhadap Kanada jika negara tersebut melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan China. Pernyataan ini memicu kekhawatiran baru terkait perang dagang dan stabilitas ekonomi global.

Menurut Head of Research BullionVault Adrian Ash, pergerakan harga logam mulia tahun ini sangat dipengaruhi oleh faktor politik AS. “Penggerak utama pasar logam mulia saat ini adalah Trump dan Trump,” ujarnya.

Ash menambahkan, reli emas dan perak juga didorong oleh gelombang investor ritel baru, khususnya di Asia dan Eropa, yang mulai membangun kepemilikan emas dan perak sebagai pelindung nilai kekayaan.

Pasar juga menyoroti kemungkinan intervensi mata uang terkoordinasi antara AS dan Jepang, di tengah volatilitas nilai tukar yang kian meningkat.

Di sisi kebijakan moneter, perhatian investor tertuju pada pertemuan The Fed pekan ini. Meski bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga, situasi menjadi sensitif setelah pemerintahan Trump meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

Trump diketahui terus menekan Powell agar memangkas suku bunga. Kondisi ini semakin menguntungkan emas yang tidak memberikan imbal hasil, karena biaya peluang memegang emas akan semakin rendah saat suku bunga turun.

Sejauh ini, harga emas telah naik hampir 18% sepanjang 2026, setelah melonjak tajam 64% pada 2025. Tahun lalu, emas juga mencetak sejarah dengan menembus level US$ 3.000 dan US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya.

Sejumlah analis menilai reli emas masih belum selesai. Societe Generale memperkirakan harga emas berpeluang mencapai US$ 6.000 per ons pada akhir tahun ini, meski menyebut proyeksi tersebut masih tergolong konservatif. Morgan Stanley bahkan menyebut reli emas bisa berlanjut dengan target optimistis di kisaran US$ 5.700.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak ke rekor tertinggi US$ 117,69 per ons dan terakhir diperdagangkan naik 1,15% dan ditutup di level US$ 103,63. Harga perak sebelumnya telah menembus level psikologis US$ 100 per ons, didorong oleh lonjakan minat investor ritel dan terbatasnya pasokan fisik.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan momentum perak masih sangat kuat, terutama karena harga perak di China diperdagangkan dengan premi signifikan dibandingkan pasar London. Namun, harga yang terlalu tinggi berpotensi menekan permintaan industri.


sumber : investor.id