Harga Emas Cetak ATH Kembali, Dekati Level Psikologis $5.000

Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) dan semakin mendekati level psikologis US$ 5.000 per ons pada Jumat (23/1/2026).

Dikutip dari CNBC internasional, penguatan ini didorong meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik global serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Harga emas spot melesat 0,92% dan ditutup di level US$ 4.981,49 per ons, setelah sempat menyentuh rekor intraday di US$ 4.989,56 per ons.

“Peran emas sebagai aset lindung nilai dan alat diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik menjadikannya kebutuhan strategis,” ujar pedagang logam independen Tai Wong.

Wong menambahkan, reli emas saat ini mencerminkan perubahan fundamental dalam perilaku investor global, bukan sekadar lonjakan sesaat.

Sejak awal 2026, meningkatnya ketegangan antara AS dan NATO terkait Greenland, kekhawatiran atas independensi The Fed, serta ketidakpastian kebijakan tarif telah mendorong arus dana ke aset aman.

Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral dan pergeseran global dari dolar AS turut menopang kenaikan harga logam mulia tersebut.

Dari sisi kebijakan moneter, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 27–28 Januari 2026. Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada paruh kedua 2026.

Kondisi suku bunga rendah cenderung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Sepanjang 2025, harga emas telah mencetak tonggak penting dengan menembus level US$ 3.000 per ons pada Maret dan US$ 4.000 per ons pada Oktober. Tren kenaikan berlanjut pada awal 2026, dengan emas kian mendekati level US$ 5.000 per ons.

Sementara itu, reli harga emas turut diikuti oleh logam mulia lainnya. Harga perak melonjak 6,55% dan ditutup di US$ 102,45 per ons, usai sempat menembus rekor US$ 102,55 per ons, didukung keterbatasan pasokan dan permintaan industri.


sumber : investor.id