Harga Emas dan Perak Anjlok, Setelah Investor Lakukan Aksi Profit Taking

Harga emas dunia jatuh lagi pada perdagangan Jumat (16/1/2026), setelah investor melakukan aksi profit taking usai reli tajam ke rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Meredanya ketegangan geopolitik turut mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Harga emas jatuh 0,73% dan ditutup di level US$ 4.581,85 per ons. Meski demikian, logam mulia ini mencatatkan kenaikan mingguan kedua berturut-turut sekitar 1,88%, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 4.642,88 pada Rabu (14/1/2026).

Analis Marex Edward Meir mengatakan, pelemahan harga emas merupakan bagian dari koreksi umum di pasar komoditas setelah reli agresif dalam beberapa pekan terakhir.

“Terjadi penarikan harga secara menyeluruh di pasar komoditas akibat aksi profit taking. Meredanya ketegangan di Timur Tengah juga menghapus sebagian premi geopolitik pada emas dan logam mulia lainnya, terutama perak,” ujar Meirdikutip dari CNBC internasional.

Ketegangan geopolitik dinilai mereda setelah aksi protes di Iran mulai surut. Presiden AS Donald Trump memilih bersikap menunggu perkembangan, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin berupaya memediasi situasi guna menurunkan eskalasi.

Dari sisi perdagangan global, AS dan Taiwan mencapai kesepakatan pada Kamis (15/1/2026) untuk menurunkan tarif atas sejumlah ekspor semikonduktor Taiwan serta mengalirkan investasi baru ke sektor teknologi AS, langkah yang berpotensi memicu ketegangan dengan China.

Di sisi kebijakan moneter, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga hingga paruh pertama tahun ini. Data LSEG menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin baru terbuka pada Juni mendatang.

Secara historis, emas cenderung menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, serta ketika suku bunga berada pada level rendah.

Meski demikian, Meir tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang emas. “Saya masih melihat peluang harga emas mencapai US$ 5.000 tahun ini, meskipun akan diwarnai koreksi-koreksi besar di sepanjang perjalanan,” katanya.

Sementara itu, harga perak spot anjlok 3,28% dan ditutup US$ 89,31 per ons. Namun, secara mingguan perak masih berpotensi menguat lebih dari 12% setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 93,64 pada hari sebelumnya.

JPMorgan dalam catatannya menyebut perak kini rentan mengalami koreksi tajam, seiring meningkatnya pasokan di luar AS, arus keluar ETF, melemahnya permintaan industri, serta pengetatan aturan perdagangan di China.


sumber : investor.id