Harga Emas Tergelincir, Setelah Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time hgh/ATH) pada Selasa (13/1/2026), didorong data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih jinak dari perkiraan sehingga menguatkan sinyal pemangkasan suku bunga The Fed ke depan.

Dikutip dari CNBC internasional, penguatan harga emas juga ditopang meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, harga perak juga menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Harga emas spot tercatat melemah 0,2% dan ditutup di level US$ 4.586,3 per ons, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 4.634,15 per ons.

Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger mengatakan, sentimen positif pasar dipicu data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi. “Data CPI yang jinak meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed ke depan,” ujar Meger.

Data menunjukkan, core Consumer Price Index (CPI) AS pada Desember naik 0,2% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan, di bawah perkiraan analis 0,3%.

Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan dorongannya agar suku bunga dipangkas secara signifikan setelah rilis data inflasi tersebut.

The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Januari 2026. Namun, pasar saat ini memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut menjadi katalis positif bagi emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik dan isu independensi The Fed turut menopang harga emas. Kekhawatiran pasar meningkat setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, yang menuai kritik dari mantan petinggi bank sentral AS dan sejumlah bank sentral dunia.

Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 25% terhadap negara-negara yang masih berdagang dengan Iran, berpotensi memicu kembali ketegangan dengan China. Di sisi lain, Rusia kembali melancarkan serangan misil dan drone ke sejumlah kota di Ukraina.

Sejalan dengan tren tersebut, Commerzbank menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi US$ 4.900 per ons.

CME Group pun mengumumkan akan menyesuaikan aturan margin untuk perdagangan logam mulia guna merespons lonjakan volatilitas pasar.

Di pasar logam lainnya, harga perak melonjak 2,13% dan ditutup di US$ 86,91 per ons, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 89,1 per ons.

Trader logam mulia InProved Hugo Pascal menilai, pergerakan perak saat ini sangat volatil. “Meski indikator teknikal mengindikasikan potensi koreksi, pelaku pasar masih dominan mengambil posisi bullish. Investor perlu mewaspadai pergerakan berlawanan yang tajam di tengah volatilitas tinggi,” ujarnya.


sumber : investor.id