Harga Emas Menanjak Lagi, Lanjutkan Reli Tahun 2025
Harga emas menanjak lagi pada Jumat (2/1/2026), melanjutkan reli kuat sepanjang 2025. Ketegangan geopolitik global serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Harga emas spot tercatat naik 0,49% dan ditutup di level US$ 4.331,31 per ons. Sepanjang 2025, logam mulia ini mencatatkan kenaikan impresif hingga 64% dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 4.549,56 per ons pada 26 Desember 2025.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan, pasar masih memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga acuan The Fed mulai Maret, disusul potensi penurunan lanjutan hingga akhir tahun.
“Kombinasi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, kekhawatiran tarif, serta isu keberlanjutan utang AS terus mendorong minat terhadap emas dan logam mulia lainnya,” ujar Melek dikutip dari CNBC internasiional.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, menjadi lebih menarik bagi investor. Saat imbal hasil aset berbunga melemah, daya tarik emas sebagai penyimpan nilai cenderung meningkat.
Selain faktor moneter, harga emas juga mendapat dorongan dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Ketegangan di Iran, belum tercapainya kesepakatan damai Rusia–Ukraina, serta konflik yang masih berlangsung di Gaza memperkuat peran emas sebagai aset safe haven.
Dari sisi teknikal, analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff menilai, peluang kenaikan emas masih terbuka. Menurutnya, target kenaikan berikutnya untuk kontrak emas Februari adalah mampu ditutup di atas area resistensi kuat pada level rekor tertinggi sepanjang masa kontrak di US$ 4.584 per ons.
Menariknya, emas fisik di pasar India dan China mulai diperdagangkan dengan premi untuk pertama kalinya dalam sekitar dua bulan terakhir, menandakan mulai pulihnya permintaan fisik di dua konsumen emas terbesar dunia tersebut.
Meski pergerakan harga emas relatif stabil, logam mulia lain mencatatkan lonjakan lebih agresif. Harga perak naik 0,7% dan ditutup di level US$ 72,53 per ons. Namun demikian, emas tetap menjadi pusat perhatian investor karena perannya sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.
Kendati demikian, setelah reli tajam di akhir tahun, seluruh logam mulia, termasuk emas, diperkirakan masih berpotensi mencatatkan koreksi mingguan dalam jangka pendek.
sumber : investor.id
